Mat Jenin sang visioner. Karena kepandaiannya memanjat pohon, Mat Jenin mendapat upah dua butir kelapa dari pemilik ladang untuk tiap pohon yang dia petik. Saking ahlinya dia memetik kelapa, tak jarang ia bisa mengumpulkan berpuluh butir kelapa sehabis bekerja untuk memanen ladang.
Dari tiap hasil kerja yang dia peroleh Mat Jenin cukup mengambil
seperlunya saja dari bertumpuk buah kelapa itu. Sisa dari kelapa Mat Jenin ia
berikan untuk yang membutuhkan dan apabila masih ada sisa lagi Mat Jenin
menjualnya kepada yang berminat.
“ Wah banyak juga uangku hasil jualan kelapa. Cakap juga aku
ternyata !”.
“Uang ini akan aku pakai untuk beli anak ayam sepasang !”
“Ayam-ayamku besar anak-anaknya pasti banyak !”
“Kalo lapar satu ku goreng, hmmm… enak enak enak !”.
Seperti suara serial kartun Upin Ipin gaya bicara Mat jenin.
“Anak – anak nya yang lain ku rawat lagi agar nak cepat
besar dan cepat beranak-pinak ni”
“ Makin banyak pula ayam-ayam aku ini !”.
*******
“Kalo ayam-ayam sudah besar nanti aku jual lagi, aku beli
anak kambing !”
“Kubeli pula kambing sepasang !”.
*******
Tanpa ampun imajinasi Mat Jenin terus berkelana
tanpa kendala mencoba mengukir masa depannya.
“Kalo sudah besar-besar dan beranak-pinak, aku jual semua kambingku
! kubelikan anak sapi banyak-banyak !”
“ Ku rawat baik-baik sampai besar akan ku jual tuk beli
anak-anak gajah ini !”
*******
“Kalo gajahku sudah besar – besar, akan kubawa menghadap
raja tuk lamar sang putri tercinta !”.
“Menikahlah aku dengan keluarga raja…".
"Sukses dan indahlah hidupku nanti…".
"Bisa bercanda dengan putri raja tanpa henti…".
"Makan ayam goreng setiap hari…".
"Hmmm… Enak enak enak… Enak sekaliiii…”.
Gumam manis impian Mat Jenin.
Gumam manis impian Mat Jenin.
--------------------------------------
Dalam cerita asli hikayat melayu ini, akhir cerita dari Mat
Jenin adalah matinya si tokoh Mat Jenin. Mat jenin mati karena jatuh dari pohon
kelapa yang ia panjat. Bukan bersungguh dengan rajin dan tekun dalam memetik
pohon kelapa namun Mat Jenin justru sibuk sendiri dengan lamunannya sampai tertidur
di atas pohon kelapa yang ia panjat. Alhasil Mat jenin pun terjatuh dari atas
ketinggian pohon kelapa dan mati seketika.
Sebagian menganggap kisah Mat Jenin adalah kiasan dan
peringatan agar seseorang tidak perlu bermimpi atau memiliki cita -cita yang
tinggi. Karena ketakutan bahwa mimpi yang terlalu tinggi tak akan pernah
tercapai. Seperti tokoh Mat Jenin tukang petik kelapa yang bermimpi menikah dan
hidup indah dengan sang putri raja. Jangan mimpi tingi – tinggi nanti jadi seperti
mat jenin, mati jatuh dari pohon kelapa karena mimpi ketinggian.
Bercita-citalah sewajarnya saja, tak perlu lah tinggi-tinggi.
Di sisi lain, menganggap bahwa hikayat ini adalah karangan
dari penjajah inggris saat berkuasa di tanah melayu yang sengaja menanamkan
nilai-nilai kekhawatiran bahkan ketakutan agar seseorang tidak perlu bermimpi
tinggi dalam segala hal, kemerdekaan mereka contohnya. Bagi mereka yang
menganggap kisah ini hanyalah karangan penjajah yang sengaja ingin menumpulkan
keinginan untuk maju dan menjadi lebih baik dari kaum inlander, atau mereka
yang tidak takut bermimpi tinggi, menganggap bahwa mimpi lah yang justru bagian
terpenting dari perubahan. Tanpa mimpi atau suatu tujuan maka jelas tak ada
yang perlu dicapai. Maka seperti apapun laku yang dijalani jelas boleh-boleh
saja karena tak ada pencapaian yang ingin dituju dalam setiap geraknya.
Sungguh mengerikan jika ini memang benar-benar konsep
terencana dari oknum yang ingin menumpulkan seseorang untuk memiliki cita-cita
yang tinggi. Tidak perlu susah-susah bertindak untuk menghambat langkah para
pejuang. Karena apa ? jelas karena mereka yang tanpa mimpi tak akan bertindak,
mimpi saja apa yang mau diperjuangkan ? tidak punya, ya ngalir saja. Tepuk
jidat sendiri. Mari bermimpi tinggi- tinggi.
Terima kasih Pak Guru Kang Rendy untuk ilmunya di SBDKK.
Bimbing aku sebagai muridmu yang masih unyu – unyu.

No comments:
Post a Comment